ada yang beda dari jumatan kali ini, hari jum'at yang biasanya panas terik kini ga sepanas biasanya. mesjid yang biasanya baru ramai setelah azan kini membludak tak terkendali. tangga-tangga dan setiap gundakan yang sekiranya bisa dipakai untuk duduk selagi menunggu jumatan mulai telah habis ditongkrongi para jamaah. air wudhu masjid yang biasanya seret pada hari biasa mengalir deras pada setiap kepala kerannya. sikut kanan-kiri pun terjadi bak berebut sembako pada saat solat jumat akan dimulai, para jamaah yang sebelumnya tidak mendapat barisan berebut mendapatkan safnya.

selepas solat jumat seseorang datang dan menghampiri memberikan secarik kertas semacam buletin yg mengangkat isu-isu yang sedang terjadi. biasanya sih gw ga pernah terlalu peduli sama yang kaya gini tapi pas ngeliat headlinenya gw jadi merasa perlu baca. di headdlinenya tertulis "Menaikan harga BBM = Menyengsarakan rakyat" isinya sih ga jauh beda sama media masa lainya setelah cabacabaca akhirnya fokus gw terhenti pada tulisan yang di bold Harga BBM Naik Demi Siapa ?



sebenernya pemerintah itu ada untuk siapa sih? untuk rakyatnya kan namun pemerintah atau orang-orang di pemerintahan pada saat ini seolah-olah terkesan menjual rakyatnya sendiri dari pada memperjuangkanya. dilihat dari sudut apapun dengan kejadian naiknya BBM ini rakyat pasti akan semakin dibebani, jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin akan semakin lebar, sebab golongan atas takan terlalu terbebani dengan kenaikan ini. semakin hari ideologi kapitalisme liberal semakin kuat tertanam di dalam negeri undang-undang migas yang semakin menguntungkan pihak asing yang dapat terlihat jelas setelah harga BBM naik, dimana harga BBM yang dijual di spbu lokal tidak akan jauh berbeda dengan yang dijual di spbu asing. bukan tidak mungkin keuntungan yang berlipat ganda akan didapatkan oleh pihak asing ,mengingat selisih harga yang tipis namun dengan kualitas lebih baik tentunya. mungkin orang-orang disenayan sono bakal bilang kenaikan BBM bakal punya nilai + dan - nya, mungkin buat anda iya. di satu sisi bagi para rakyat kecil hal ini ga ada sisi positifnya sama sekali dan anda yang di senayan ga akan dan ga mungkin ngerti karena anda bukan rakyat kecil. kalo pemerintah emang mau mewakili rakyatnya pemerintah juga harus bisa menjadi rakyatnya dan selama kehidupan mahluk senayan masih gemerlap harta KALIAN takan pernah bisa menjadi KAMI !!!